Jelaskan Legitimasi Apakah yang Diberikan Dalam Tradisi, Lengkap dengan Contohnya

⚡ Quick Answer Key

Legitimasi yang diberikan oleh tradisi adalah legitimasi tradisional, yaitu pengakuan terhadap kekuasaan atau kewenangan yang bersumber dari adat istiadat, kebiasaan turun-temurun, dan kepercayaan masyarakat.
Contoh: sistem kerajaan (raja berdasarkan garis keturunan) dan kepala adat.


Gambar sosiologi tentang legitimasi tradisional, yaitu pengakuan kekuasaan yang bersumber dari tradisi dan kebiasaan masyarakat.

✨ Pendahuluan

Halo, pejuang sosiologi! 👋
Pada bab ini, kamu sedang mempelajari kekuasaan dan kewenangan dalam masyarakat, khususnya mengapa suatu kekuasaan dianggap sah (legitim). Salah satu sumber legitimasi yang paling tua dalam sejarah manusia adalah tradisi.

Artikel ini disusun sebagai Panduan Belajar Lengkap & Kunci Jawaban, bukan sekadar jawaban singkat. Gunakan sebagai alat koreksi dan pemahaman, bukan untuk menyontek. Tujuan utamanya adalah agar kamu paham konsepnya, bukan hanya hafal jawabannya.


📖 Konteks Materi: Kekuasaan, Kewenangan, dan Legitimasi

Sebelum masuk ke pembahasan soal, mari luruskan konsep dasarnya.

  • Kekuasaan: kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi pihak lain.
  • Kewenangan: kekuasaan yang diakui dan dianggap sah.
  • Legitimasi: dasar pengakuan sosial yang membuat kekuasaan diterima oleh masyarakat.

👉 Tanpa legitimasi, kekuasaan akan mudah ditolak dan memicu konflik.


📝 Soal (Diparafrasekan)

Jelaskan legitimasi apakah yang diberikan oleh tradisi, lengkap dengan contohnya.


✅ Jawaban Tegas

Tradisi memberikan legitimasi tradisional, yaitu pengakuan terhadap kekuasaan atau kewenangan yang dianggap sah karena adat istiadat, kebiasaan turun-temurun, dan warisan sejarah dalam masyarakat.


🔍 Pembahasan Lengkap (Step-by-Step)

1️⃣ Apa yang Dimaksud dengan Legitimasi Tradisional?

Dalam kajian sosiologi (khususnya menurut Max Weber), legitimasi tradisional adalah bentuk pengakuan kekuasaan yang:

  • Bersumber dari adat istiadat
  • Telah berlangsung lama
  • Diterima karena dianggap wajar dan seharusnya demikian

Masyarakat tidak bertanya “Apakah pemimpin ini dipilih secara demokratis?”, tetapi lebih kepada:

“Bukankah memang dari dulu seperti ini?”


2️⃣ Mengapa Tradisi Bisa Memberi Legitimasi?

Karena tradisi:

  • Mengandung nilai sakral dan historis
  • Membentuk rasa patuh secara moral
  • Diinternalisasi sejak kecil melalui keluarga dan lingkungan

Akibatnya, masyarakat:

  • Patuh tanpa paksaan
  • Jarang mempertanyakan dasar kekuasaan
  • Menganggap pelanggaran tradisi sebagai kesalahan besar

3️⃣ Ciri-Ciri Legitimasi Tradisional

Agar kamu mudah mengingat, perhatikan ciri-ciri berikut:

  • ✔ Berdasarkan adat dan kebiasaan
  • ✔ Bersifat turun-temurun
  • ✔ Tidak bergantung pada aturan hukum modern
  • ✔ Berlaku kuat dalam masyarakat tradisional
  • ✔ Ketaatan muncul karena kepercayaan, bukan aturan tertulis

🌍 Contoh Legitimasi Tradisional dalam Kehidupan Nyata

📌 Contoh 1: Sistem Kerajaan

Seorang raja dianggap sah memerintah karena:

  • Berasal dari garis keturunan raja sebelumnya
  • Tahta diwariskan secara turun-temurun

🧠 Analisis Sosiologis:
Raja tidak perlu dipilih lewat pemilu. Selama adat kerajaan masih dihormati, masyarakat menerima kekuasaannya.


📌 Contoh 2: Kepala Adat

Di banyak daerah di Indonesia:

  • Kepala adat memiliki kewenangan menyelesaikan konflik
  • Dipilih atau diakui berdasarkan struktur adat

🧠 Analisis Sosiologis:
Keputusan kepala adat ditaati bukan karena hukum negara, tetapi karena legitimasi tradisi.


📌 Contoh 3 (Tambahan): Pemimpin Suku

Dalam masyarakat suku:

  • Pemimpin dipilih berdasarkan usia, garis keturunan, atau pengalaman adat
  • Tidak ada pemilihan formal seperti di negara modern

⚠️ Jebakan Soal & Tips Guru (Information Gain)

❌ Kesalahan Umum Siswa

  • Menjawab hanya: “legitimasi” tanpa jenisnya
  • Menyebut legitimasi hukum atau rasional (salah konteks)
  • Tidak memberi contoh konkret

✅ Tips Aman Saat Ujian

Gunakan pola 3 langkah:

  1. Sebut jenis legitimasi
  2. Jelaskan alasannya
  3. Berikan contoh nyata

✍️ Contoh Jawaban Ideal (Versi Ujian)

Tradisi memberikan legitimasi tradisional, yaitu pengakuan terhadap kekuasaan yang dianggap sah karena adat istiadat dan kebiasaan turun-temurun. Contohnya adalah sistem kerajaan, di mana raja berkuasa karena berasal dari garis keturunan raja sebelumnya, serta kepala adat yang memiliki kewenangan karena diakui oleh tradisi masyarakat setempat.


🧠 Latihan Tambahan (Soal Serupa)

Soal 1

Mengapa masyarakat tradisional cenderung menerima kekuasaan tanpa perlawanan?

Jawaban Karena kekuasaan tersebut memiliki legitimasi tradisional yang bersumber dari adat istiadat dan kebiasaan turun-temurun yang telah lama dihormati.

Soal 2

Apakah legitimasi tradisional masih relevan di era modern? Jelaskan!

Jawaban Masih relevan, terutama dalam komunitas adat dan budaya lokal, meskipun dalam sistem negara modern sering berdampingan dengan legitimasi hukum dan rasional.

❓ FAQ (Pertanyaan yang Sering Ditanyakan)

Q: Apakah legitimasi tradisional sama dengan legitimasi hukum?
A: Tidak. Legitimasi tradisional bersumber dari adat, sedangkan legitimasi hukum berasal dari aturan tertulis dan perundang-undangan.

Q: Apakah pemimpin tradisional bisa kehilangan legitimasi?
A: Bisa, jika tradisi mulai ditinggalkan atau tidak lagi dipercaya masyarakat.

Q: Apakah Indonesia hanya memakai legitimasi hukum?
A: Tidak. Indonesia mengenal pluralisme legitimasi, termasuk legitimasi tradisional di masyarakat adat.


🎯 Kesimpulan & Motivasi

Legitimasi yang diberikan oleh tradisi adalah legitimasi tradisional, yaitu pengakuan kekuasaan yang bersumber dari adat, kebiasaan, dan warisan sejarah. Konsep ini penting untuk memahami mengapa masyarakat patuh, bahkan tanpa aturan tertulis.

Teruslah berlatih memahami konsep, bukan sekadar menghafal. Sosiologi bukan tentang jawaban cepat, tetapi memahami cara masyarakat bekerja.

Baca juga:
💬 Disclaimer: Kami di fokus.co.id berkomitmen pada asas keadilan dan keberimbangan dalam setiap pemberitaan. Jika Anda menemukan konten yang tidak akurat, merugikan, atau perlu diluruskan, Anda berhak mengajukan Hak Jawab sesuai UU Pers dan Pedoman Media Siber. Silakan isi formulir di halaman ini atau kirim email ke redaksi@fokus.co.id.