Bahasa Ibu yang Dirindu - PKN Kelas 9 Halaman 128

Kunci Jawaban PKN Kelas 9 Halaman 128 sering dicari pelajar saat belajar mandiri di rumah.
Topik Bahasa Ibu yang Dirindu terasa dekat dengan kehidupan sekolah dan keluarga.
Di balik tugas ini, ada pesan besar tentang nilai Pancasila.
Terutama soal menghargai pendapat, musyawarah di sekolah, dan hidup rukun dalam perbedaan.
Artikel ini mengajak melihat tugas PKN dari sudut pandang pelajar.
Santai, relevan, tapi tetap bernilai.
Kunci Jawaban PKN Kelas 9 Halaman 128
Bahasa Ibu yang Dirindu
Oleh: Wisnu Dewabrata, Nawa Tunggal, dan Fransisca Romana Ninik
Sejumlah keluarga meyakini bahwa keterampilan berbahasa daerah meletakkan fondasi yang kuat dalam pergaulan anak-anak mereka di tahap selanjutnya. Kecakapan itu dinilai mendukung masa depan sang anak.
Mellani (39), warga Jakarta keturunan Minang, mengajarkan bahasa Minang kepada anaknya melalui percakapan sehari-hari. "Aku dan suami masih bisa bicara bahasa Minang. Aku sampai SMA masih di kampung yang masih menuturkan bahasa Minang dalam keseharian. Suamiku, meskipun besar di Riau, keluarganya masih berbahasa Minang. Sejak menikah sampai sekarang mempunyai anak, kami bicara bahasa Minang di rumah," tuturnya. Putranya, Hudzaifah (11), kini cukup lancar berbahasa Minang meskipun masih ada kata atau kalimat yang belum dia pahami. Dia kadang menyeletuk atau berkomentar secara spontan memakai bahasa Minang.
Dengan terampil berbahasa daerah, pergaulan si anak makin luas. Misalnya saat berada di kampung halaman, berkumpul bersama keluarga besar, atau kelak ketika si anak hidup merantau.
Ini pula yang dipegang Lenti Sitorus (45), warga Jakarta keturunan Batak. "Dari dulu, aku sudah bercita-cita ingin menikah dengan orang Batak asli dari kampung supaya identitas sebagai orang Batak enggak hilang. Memang bahasa Batak yang kami pakai sekarang masih kategori pasif, tetapi asal sama-sama dipahami," katanya.
Sementara sutradara film Nia Dinata malah mengenal bahasa Jawa dari putra bungsunya, Gibran Papadimitriou (18). Sebagai keturunan Sunda-Minang, Nia paham kedua bahasa daerah itu, tetapi tidak demikian dengan bahasa Jawa. "Darah Jawa saya cuma seperempat, dari nenek buyut saya yang asli Yogyakarta," ujarnya sambil tertawa.
Gibran lahir dan besar di Jakarta. Ayahnya keturunan Yunani-Indonesia. Gibran kecil rupanya tertarik dengan dunia wayang. Dia belajar mendalang pada usia 11 tahun dan kini menjadi dalang. Dia fasih berbahasa Jawa kromo atau halus. Nia menuturkan, di rumah,
anaknya sering berbahasa Jawa halus, baik untuk meminta maupun mengekspresikan sesuatu. Sekarang, Gibran tengah kuliah di Yogyakarta.
"Kami tidak melarang, bahkan mendukung dia. Dari menunggui Gibran belajar mendalang, saya jadi tahu ada bahasa Jawa kromo, Jawa ngoko. Tetapi kalau dia sudah ngomong bahasa Jawa kromo, saya minta, tolong dong, terjemahkan," kata Nia.
Metafora
Di mata Hartati, seniman tari dari Minang, banyak metafora yang berharga dalam bahasa ibunya sehingga dia sebisa mungkin mengajarkan bahasa Minang kepada anak-anaknya. Metafora berbahasa Minang "raso jo pareso" kerap ia sampaikan di tengah keluarga. Metafora itu menanamkan cara berinteraksi dengan orang lain, yakni tahu dan menghargai lawan bicara dengan tidak menyinggung perasaannya.
Hartati mengungkapkan metafora lain, "lawak di awak katuju dek urang". "Ini ajaran toleransi, betapa kita harus menimbang kata dan tindakan agar tidak berbuat salah dan menyinggung perasaan orang lain," ujar Hartati.
Di tengah aneka etnik di Jakarta, berbahasa ibu juga menyejukkan perasaan Beiby Sumanti, seniman musik tradisional Minahasa dan aktivis sosial asal Tondano, Sulawesi Utara. Ia merantau ke Jakarta sejak 1979 dan selalu menggunakan bahasa ibunya untuk berkomunikasi sehari-hari. Tahun 1989, Beiby mendirikan Sanggar Bapontar, sanggar musik kolintang.
"Sejak awal kami berkomitmen bersama untuk selalu menggunakan bahasa Manado. Ada perasaan kedekatan sebagai keluarga. Bagi sesama perantauan, bahasa Manado jadi obat home sick atau rindu kampung halaman," ucapnya.
Beiby membuat kaos dengan tulisan bahasa Manado "kita bukang kaki gatal maar suka bapontar" untuk souvenir dan mendapatkan tanggapan bagus dari rekan-rekannya. Tulisan itu bermakna 'kaki kita (saya) bukan gatal, tetapi senang jalan-jalan'. "Ini bermakna tentang kesukaan merantau atau menjelajah ke luar Manado," imbuh Beiby.
Banyak studi telah menunjukkan manfaat bagi seseorang yang menguasai bahasa ibunya. Tak heran, sejak tahun 1953, UNESCO pun mendorong pendidikan awal untuk anak-anak menggunakan bahasa ibu.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, kunjungi laman https://buku.kemdikbud.go.id/s/bahasaibu-dirindu.
Sekilas Tentang Tugas PKN Halaman 128
Di buku PKN kelas 9, siswa diminta membaca berita Bahasa Ibu yang Dirindu.
Setelah itu, ada beberapa pertanyaan analisis yang harus dijawab.
Tugas ini bukan sekadar mengulang isi bacaan.
Siswa diajak berpikir kritis dan mengaitkan dengan kehidupan nyata.
Isunya tentang bahasa daerah.
Lebih luas lagi, tentang identitas, toleransi, dan nilai Pancasila.
Mengapa Bahasa Ibu Jadi Topik Penting
Bahasa ibu bukan hanya alat komunikasi.
Bahasa adalah cara berpikir dan bersikap.
Di sekolah, perbedaan bahasa sering terlihat.
Ada yang logatnya Jawa, Sunda, Minang, Batak, atau daerah lain.
Kalau tidak disikapi dengan benar, perbedaan ini bisa jadi bahan ejekan.
Di sinilah sikap toleransi antar pelajar diuji.
Tantangan Melestarikan Bahasa Ibu di Perkotaan
Hidup di kota itu ramai dan beragam.
Bahasa Indonesia jadi bahasa utama agar semua saling paham.
Lingkungan multietnis membuat bahasa daerah jarang dipakai.
Anak-anak lebih sering mendengar bahasa nasional atau bahkan bahasa asing.
Di sekolah, hampir semua pelajaran memakai bahasa Indonesia.
Bahasa daerah akhirnya cuma jadi pelajaran tambahan.
Teknologi juga ikut berperan.
Media sosial, game, dan tontonan jarang memakai bahasa daerah.
Banyak orang tua akhirnya tidak konsisten.
Ada kekhawatiran anak dianggap ketinggalan zaman.
Bahasa Daerah dan Nilai Pancasila
Bahasa ibu berkaitan erat dengan nilai Pancasila.
Terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan.
Dalam banyak budaya daerah, bahasa mengajarkan sopan santun.
Ada aturan bicara, pilihan kata, dan sikap menghormati.
Contohnya bahasa Jawa dengan tingkatan tutur.
Salah pilih kata bisa dianggap tidak menghargai.
Nilai ini sejalan dengan sikap menghargai pendapat.
Berbicara bukan hanya soal isi, tapi juga cara.
Contoh Sikap di Sekolah yang Relevan
Di kelas, perbedaan pendapat sering terjadi.
Misalnya saat diskusi kelompok atau musyawarah kelas.
Sikap Pancasila terlihat saat siswa mau mendengar.
Bukan memotong atau meremehkan pendapat teman.
Menghargai pendapat berarti memberi ruang bicara.
Walau tidak setuju, tetap sopan.
Musyawarah di sekolah melatih hal ini.
Keputusan diambil bersama, bukan sepihak.
Bahasa Ibu sebagai Latihan Toleransi
Bahasa daerah mengajarkan empati.
Kita belajar menyesuaikan diri dengan lawan bicara.
Saat teman berbicara dengan logat khas, jangan ditertawakan.
Itu bagian dari identitas.
Sikap toleransi antar pelajar dimulai dari hal kecil.
Menghormati cara bicara termasuk di dalamnya.
Di sekolah multikultural, ini sangat penting.
Supaya suasana belajar tetap nyaman.
Cara Keluarga Membiasakan Bahasa Daerah
Dari cerita Bahasa Ibu yang Dirindu, terlihat peran keluarga besar.
Bahasa daerah dipakai dalam obrolan sehari-hari.
Tidak harus selalu sempurna.
Yang penting anak terbiasa mendengar dan mencoba.
Ada keluarga yang mendukung minat budaya anak.
Wayang, musik daerah, atau seni tradisi.
Lewat kegiatan ini, bahasa dipelajari secara alami.
Tidak terasa seperti belajar di kelas.
Peran Sekolah dalam Pelestarian Bahasa
Sekolah punya peran strategis.
Bukan hanya lewat mata pelajaran.
Kegiatan ekstrakurikuler bisa jadi sarana.
Teater, tari daerah, atau lomba pidato.
Musyawarah OSIS juga bisa memakai nilai budaya.
Mengajarkan hidup rukun dalam perbedaan.
Guru memberi contoh lewat sikap.
Menghargai pendapat siswa tanpa membeda-bedakan.
Bahasa Daerah di Lingkungan Sekitar Sekolah
Di banyak daerah, bahasa ibu masih dipakai di rumah.
Terutama oleh orang tua dan kakek-nenek.
Namun di kalangan pelajar, penggunaannya menurun.
Bahasa daerah sering hanya dipahami, tidak digunakan.
Di sekolah, bahasa Indonesia lebih dominan.
Ini wajar, tapi jangan sampai bahasa daerah hilang.
Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan.
Bahwa bahasa adalah warisan bersama.
Hubungan Bahasa dan Identitas Pelajar
Bahasa membentuk cara berpikir.
Juga membentuk rasa percaya diri.
Pelajar yang bangga dengan bahasanya biasanya lebih terbuka.
Tidak minder dengan latar belakangnya.
Ini berpengaruh pada interaksi sosial.
Lebih mudah hidup rukun dalam perbedaan.
Identitas yang kuat tidak membuat eksklusif.
Justru memudahkan menghargai identitas orang lain.
Musyawarah di Sekolah sebagai Praktik Nyata
Musyawarah bukan konsep abstrak.
Itu terjadi setiap hari di sekolah.
Pemilihan ketua kelas adalah contoh sederhana.
Setiap siswa boleh menyampaikan pendapat.
Perbedaan pilihan sering muncul.
Di sinilah nilai Pancasila diuji.
Mengutamakan musyawarah berarti siap menerima hasil bersama.
Bukan memaksakan kehendak.
Sikap Ketuhanan dalam Menghargai Pendapat
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan rendah hati.
Tidak merasa paling benar sendiri.
Dalam diskusi, sikap ini sangat relevan.
Mendengarkan sebelum menanggapi.
Menghargai pendapat adalah bentuk akhlak.
Bukan hanya etika sosial.
Di sekolah, ini terlihat dari cara berbicara.
Nada suara, pilihan kata, dan ekspresi.
Bahasa Ibu dan Pendidikan Karakter
Bahasa daerah sarat nilai moral.
Banyak pepatah dan metafora.
Nilai ini membentuk karakter sejak kecil.
Termasuk cara bersikap di sekolah.
Pelajar yang terbiasa dengan nilai budaya biasanya lebih santun.
Tidak mudah meremehkan teman.
Ini sejalan dengan tujuan PKN.
Membentuk warga negara yang berkarakter.
Cara Efektif Melestarikan Bahasa di Kalangan Pelajar
Pendekatan harus kreatif.
Tidak bisa hanya lewat ceramah.
Konten media sosial bisa dimanfaatkan.
Video pendek, meme, atau podcast berbahasa daerah.
Pelajar lebih tertarik pada hal yang dekat dengan dunia mereka.
Bahasa daerah harus terasa relevan.
Kegiatan sekolah bisa dikemas menyenangkan.
Tanpa paksaan, tanpa rasa kuno.
Peran Generasi Muda dalam Perbedaan
Generasi muda hidup di era global.
Perbedaan adalah hal biasa.
Bahasa ibu justru jadi penyeimbang.
Agar tidak kehilangan akar.
Dengan memahami bahasa sendiri, pelajar lebih siap menghargai yang lain.
Inilah inti hidup rukun dalam perbedaan.
Nilai Pancasila tidak berhenti di buku.
Ia hidup dalam interaksi sehari-hari.
Refleksi Pelajar dari Tugas Ini
Tugas PKN halaman 128 bukan sekadar soal.
Ada cermin untuk melihat diri sendiri.
Apakah kita sudah menghargai pendapat teman.
Apakah musyawarah di sekolah benar-benar dijalani.
Bahasa Ibu yang Dirindu mengingatkan kita pada rumah.
Pada nilai yang sering terlupakan.
Di tengah hiruk pikuk sekolah dan kota, bahasa ibu memberi jeda.
Mengajak kita lebih manusiawi.
Jawaban Singkat:
1. Tantangan melestarikan bahasa ibu di wilayah perkotaan
Tantangan utamanya adalah lingkungan kota yang multietnis.
Bahasa Indonesia dan bahasa asing lebih sering dipakai sebagai bahasa pergaulan.
Penutur aktif bahasa daerah makin sedikit.
Bahasa daerah akhirnya cuma dipahami, tapi jarang dipakai.
Sekolah, media, dan teknologi hampir selalu menggunakan bahasa nasional.
Orang tua juga sering tidak konsisten karena takut anak kesulitan beradaptasi.
2. Cara keluarga mengajarkan dan membiasakan bahasa daerah
Bahasa daerah dipakai dalam percakapan sehari-hari di rumah.
Anak dibiasakan mendengar dan merespons, walau belum lancar.
Minat anak terhadap budaya daerah didukung.
Contohnya lewat seni, wayang, musik, atau kegiatan tradisional.
Nilai budaya ditanamkan lewat metafora dan ungkapan khas daerah.
Ada juga yang membangun komunitas agar bahasa dipakai secara alami.
3. Penggunaan bahasa daerah di lingkungan sekitar
Bahasa daerah masih digunakan di lingkungan keluarga.
Terutama oleh orang tua dan generasi yang lebih tua.
Dalam acara adat dan kegiatan masyarakat, bahasa daerah tetap hidup.
Namun di kalangan pelajar, penggunaannya mulai berkurang.
Sebagian besar remaja hanya memahami, tapi jarang berbicara aktif.
Bahasa Indonesia lebih dominan dalam pergaulan sehari-hari.
4. Cara efektif melestarikan bahasa daerah di kalangan generasi muda
Bahasa daerah harus dibiasakan sejak dini di rumah.
Bukan lewat paksaan, tapi kebiasaan.
Bahasa daerah perlu dikaitkan dengan budaya populer.
Misalnya seni, musik, film, atau konten media sosial.
Sekolah dan komunitas perlu aktif mengadakan kegiatan budaya.
Yang paling penting, menanamkan rasa bangga pada identitas daerah.
Penutup: Makna Kunci Jawaban PKN Kelas 9 Halaman 128
Kunci Jawaban PKN Kelas 9 Halaman 128 bukan tujuan akhir.
Ia alat untuk belajar dan refleksi.
Bahasa ibu, toleransi, dan musyawarah saling terhubung.
Semua bermuara pada nilai Pancasila.
Sebagai pelajar, menghargai pendapat itu wajib.
Hidup rukun dalam perbedaan itu keren.
Kalau sekolah adalah miniatur Indonesia.
Maka bahasa dan sikap kita adalah cerminnya.