Rial Iran Anjlok hingga Bernilai Nol Koma Rupiah, Krisis Picu Protes Meluas

Rial Iran Terjun ke Titik Terendah Saat Krisis Ekonomi Memantik Amarah Publik

Ringkasan Ekonomi dan Krisis Rial Iran

  • Nilai Rial Iran anjlok hingga bernilai nol koma rupiah, dengan kurs pasar terbuka mencapai 1,25–1,3 juta Rial per dolar AS.
  • Krisis ekonomi memicu inflasi tinggi, lonjakan harga pangan, dan melemahnya daya beli masyarakat.
  • Tekanan ekonomi berujung protes meluas di berbagai kota besar, memperdalam krisis kepercayaan publik.

FOKUS MANCANEGARA - Mata uang Iran, Rial, kembali mencatat rekor kelam setelah nilainya merosot tajam di pasar terbuka. Saat ini, 1 dolar AS setara 1,25 hingga 1,3 juta Rial, level terendah sepanjang sejarah.

Nilainya begitu kecil hingga sejumlah aplikasi penukar mata uang bahkan membulatkannya menjadi US$0,00. Sebuah ironi pahit bagi negara yang pernah menjadi kekuatan ekonomi regional.

Kejatuhan ini langsung mengguncang sendi kehidupan sosial dan politik Iran. Krisis ekonomi yang memburuk memicu gelombang protes terbesar sejak 2022.

Protes Meluas dan Pejabat Mundur

Di tengah tekanan publik, Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad Reza Farzin dilaporkan mengundurkan diri. Keputusan itu datang saat kepercayaan terhadap otoritas moneter kian menipis.

Ribuan pedagang menutup toko dan melakukan mogok di pusat-pusat ekonomi utama, mulai dari Grand Bazaar Tehran, Saadi Street, hingga kota-kota besar seperti Isfahan, Shiraz, dan Mashhad.

Aparat keamanan mengerahkan polisi anti huru-hara dan menembakkan gas air mata. Namun, amarah publik tak mudah dipadamkan, seperti bara yang terus disulut angin.

Inflasi Menggerus Kehidupan Sehari-hari

Dampak krisis paling terasa di dapur dan dompet warga. Inflasi tahunan kini melampaui 42 persen, sementara harga pangan melonjak lebih dari 70 persen.

Biaya layanan kesehatan pun naik sekitar 50 persen, membuat akses terhadap kebutuhan dasar semakin berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Bagi banyak keluarga, tabungan menguap dalam hitungan bulan. Harga-harga melesat, sementara pendapatan tak mampu mengejar.

Sanksi dan Ketegangan Regional

Krisis ini diperparah oleh sanksi internasional yang masih menekan perekonomian Iran. Sejumlah aset negara itu juga dibekukan di luar negeri, membatasi ruang gerak keuangan pemerintah.

Di saat bersamaan, ancaman konflik regional terus membayangi, menambah ketidakpastian dan memperlemah kepercayaan pasar terhadap Rial.

Bagi rakyat Iran, kejatuhan mata uang bukan sekadar deret angka di papan kurs. Ini adalah krisis eksistensial yang menyentuh masa depan mereka.

Saat nilai uang runtuh, yang ikut goyah bukan hanya ekonomi, tetapi juga kepercayaan pada negara itu sendiri.

💬 Disclaimer: Kami di fokus.co.id berkomitmen pada asas keadilan dan keberimbangan dalam setiap pemberitaan. Jika Anda menemukan konten yang tidak akurat, merugikan, atau perlu diluruskan, Anda berhak mengajukan Hak Jawab sesuai UU Pers dan Pedoman Media Siber. Silakan isi formulir di halaman ini atau kirim email ke redaksi@fokus.co.id.