Razia Pekat Jelang Ramadhan, Polda Banten Sita 7.471 Botol Miras

Ringkasan Berita
- Operasi Pekat Maung 2026 digelar 16–25 Februari 2026.
- 100 personel dikerahkan oleh Polda Banten.
- Disita 7.471 botol minuman keras berbagai jenis.
- Terungkap satu kasus prostitusi dan empat laporan narkotika.
Berita Utama
FOKUS BANTEN - Polda Banten mengerahkan 100 personel dalam Operasi Pekat Maung 2026 yang berlangsung 16–25 Februari 2026. Hasilnya, sebanyak 7.471 botol minuman keras disita menjelang bulan Ramadhan.
Operasi ini difokuskan pada penindakan penyakit masyarakat yang dinilai berpotensi mengganggu ketertiban selama ibadah puasa. Aparat mengedepankan fungsi Reserse Kriminal dan Sabhara dalam pelaksanaannya.
Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea mengatakan, operasi tersebut memang diarahkan untuk menjaga situasi tetap kondusif.
“Polda Banten melibatkan sebanyak 100 personel dengan mengedepankan fungsi Reskrim dan Sabhara. Kegiatan ini difokuskan pada penindakan berbagai penyakit masyarakat yang berpotensi mengganggu ketertiban dan kenyamanan umat Muslim dalam menjalankan ibadah puasa,” ujar Maruli di Kota Serang, Jumat.
Selama operasi berlangsung, ribuan botol minuman keras dari berbagai jenis diamankan dari wilayah hukum Polda Banten. Jumlahnya tidak sedikit, 7.471 botol, angka yang cukup untuk menggambarkan masih maraknya peredaran miras.
“Selama pelaksanaan operasi, Polda Banten menyita sebanyak 7.471 botol minuman keras dari berbagai jenis. Selain itu, kami juga mengungkap satu kasus prostitusi dengan dua orang tersangka pasangan suami istri yang diduga memfasilitasi praktik prostitusi,” katanya.
Tak hanya itu, di sektor tindak pidana narkotika, kepolisian juga mencatat empat laporan polisi. Dari pengungkapan tersebut, diamankan barang bukti sabu seberat 7,5 gram dan satu orang tersangka.
“Dalam penindakan tindak pidana narkotika, petugas turut mengungkap empat laporan polisi dengan barang bukti sabu seberat 7,5 gram serta meringkus satu orang tersangka,” jelasnya.
Operasi pekat menjelang Ramadhan bukan agenda baru. Namun setiap tahun, daftar temuan yang hampir serupa seolah menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah soal penyakit masyarakat masih belum benar-benar usai.