Soal Izin dan AMDAL, Proyek Sawah Luhur di Serang Didemo Ratusan Massa

Ringkasan Cepat
- Ratusan massa Aliansi Perjuangan Masyarakat Banten gelar aksi di Sawah Luhur.
- Penyegelan simbolik dilakukan di area proyek.
- Massa tuntut transparansi izin dan dokumen AMDAL.
- Warga khawatir dampak ekologis dan sosial.
- Aksi berlangsung tertib di bawah pengawalan aparat.
Berita Utama
FOKUS BANTEN - Ratusan massa dari Aliansi Perjuangan Masyarakat Banten menggelar aksi demonstrasi di kawasan Sawah Luhur, Kota Serang, dan melakukan penyegelan simbolik terhadap proyek yang mereka nilai bermasalah.
Aksi ini disebut sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan yang dianggap belum memenuhi aspek prosedural, lingkungan, dan partisipasi warga.
Massa yang terdiri dari petani, nelayan, mahasiswa, hingga tokoh pendekar memadati lokasi proyek sejak pagi. Mereka membentangkan bendera Merah Putih berukuran besar di tengah area sebagai simbol kedaulatan rakyat atas tanah.
Koordinator aksi, Idan Wildan, menegaskan penolakan mereka bukan terhadap pembangunan secara umum. Ia menyebut persoalannya terletak pada proses dan transparansi.
"Kami tidak anti-pembangunan, tapi kami menolak keras pembangunan yang dipaksakan melalui jalur gelap tanpa transparansi dan keberpihakan pada rakyat. Jika suara kami diabaikan, api perjuangan ini akan membara hingga ke tingkat nasional. Tanah ini adalah nafas kami, bukan komoditas tak bertuan," ujar Idan Wildan dalam orasinya.
Selain isu prosedural, kekhawatiran juga muncul terkait dampak ekologis. Warga mempertanyakan kejelasan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan proses perizinan proyek.
Bunda Umi, perwakilan warga Sawah Luhur, menyampaikan kegelisahan masyarakat yang merasa kurang dilibatkan. Ia menilai warga justru menjadi pihak yang paling terdampak.
"Kami yang paling tahu rasa tanah ini, kami yang akan menanggung debunya. Bagaimana mungkin proyek sebesar ini berjalan tanpa kejelasan perizinan dan dialog jujur dengan kami?" ujarnya.
Dalam pernyataannya, aliansi menyampaikan tiga tuntutan utama. Mereka meminta penghentian sementara proyek hingga aspek administratif dan lingkungan diselesaikan sesuai hukum, transparansi penuh atas perizinan dan AMDAL, serta dialog terbuka tanpa intimidasi.
Meski tensi aksi sempat memanas lewat orasi-orasi lantang, kegiatan berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Tidak ada laporan bentrokan selama demonstrasi berlangsung.
Aliansi menegaskan perjuangan akan terus dikawal hingga ada kejelasan dari pemerintah daerah dan pihak pengembang. Di tengah proyek yang disebut-sebut sebagai simbol kemajuan, warga mengingatkan bahwa pembangunan tanpa keadilan hanya akan menyisakan tanda tanya panjang.