Relawan Jepang Tinjau Jembatan Rapuh di Serang, Bambu Pun Deg-degan

Relawan Jepang meninjau jembatan bambu rusak di Kampung Ciseke, Serang, untuk program bakti sosial internasional Agustus 2026.

Relawan Jepang Tinjau Jembatan Rapuh di Serang, Bambu Pun Deg-degan

FOKUS SERANG - Jembatan bambu di Kampung Ciseke, Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, mendadak jadi perhatian tamu internasional. Minggu, 17 Mei 2026, dua relawan asal Jepang datang langsung melihat kondisinya. Dan tampaknya, bambu-bambu tua itu ikut grogi diperiksa tamu luar negeri.

Koji Isoda dan Sho Aoyama menyusuri jembatan penghubung warga yang melintasi Sungai Cisuar. Panjangnya sekitar 10 meter dengan lebar 1,4 meter. Fungsinya sederhana tapi vital: jalan sekolah anak-anak, jalur hasil kebun, sampai urat nadi ekonomi warga.

Masalahnya, usia bambu rupanya tidak bisa diajak kompromi. Beberapa bagian terlihat lapuk dan mulai rusak. Warga yang melintas pun seperti sedang ikut audisi acara ekstrem: sekali lewat, jantung ikut latihan kardio.

Koji dan Sho datang bukan sekadar jalan-jalan sambil menikmati suara sungai. Kunjungan itu menjadi asesmen awal program bakti sosial internasional yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026.

Mereka didampingi Koordinator Lapangan Annisa Hara bersama relawan Fesbuk Banten News (FBn). Selama peninjauan, keduanya tampak serius memperhatikan konstruksi jembatan hingga kondisi aliran Sungai Cisuar. Sesekali mereka berdiskusi, sementara bambu-bambu di bawah kaki mungkin hanya bisa berharap tidak diinjak terlalu keras.

Hasil survei tersebut nantinya akan menjadi bahan pertimbangan pembangunan maupun perbaikan infrastruktur di Kampung Ciseke. Sebab bagi warga, jembatan itu bukan sekadar rangkaian bambu. Ia adalah jalan pulang, jalan sekolah, dan kadang jalan menuju harapan yang tidak ikut hanyut saat hujan datang.

Program sosial ini digagas organisasi The Global Organization of Dreamers (GOOD!). Sekitar 20 hingga 30 mahasiswa dan pemuda Jepang dijadwalkan datang ke Kampung Ciseke pada Agustus mendatang.

Mereka tidak hanya membantu pembangunan fasilitas publik. Para relawan juga akan tinggal bersama warga desa, belajar kehidupan masyarakat Indonesia dari dekat, sambil berbagi budaya dan pengalaman dari negeri sakura.

Di sisi lain, para relawan Jepang kini tengah mengurus visa dan menggalang donasi untuk mendukung pembangunan infrastruktur di kampung tersebut. Karena ternyata, membangun jembatan bukan cuma soal bambu dan paku. Kadang juga soal manusia yang mau saling menyeberangi jarak budaya.

Direktur Relawan FBn, Lulu Jamaludin, mengatakan pihaknya akan terus mendampingi proses survei hingga pembangunan selesai.

“Program ini bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga membangun persahabatan, solidaritas, dan pertukaran budaya antara pemuda Jepang dengan masyarakat di Kampung Ciseke,” ujarnya.

Hingga kini, jembatan bambu itu masih digunakan warga setiap hari. Ia masih berdiri, meski mulai renta. Dan seperti banyak hal dalam hidup, kadang yang paling rapuh justru paling sering diandalkan.

Penulis: Fuad

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Relawan Jepang Tinjau Jembatan Rapuh di Serang, Bambu Pun Deg-degan
  • Relawan Jepang Tinjau Jembatan Rapuh di Serang, Bambu Pun Deg-degan
  • Relawan Jepang Tinjau Jembatan Rapuh di Serang, Bambu Pun Deg-degan
  • Relawan Jepang Tinjau Jembatan Rapuh di Serang, Bambu Pun Deg-degan
  • Relawan Jepang Tinjau Jembatan Rapuh di Serang, Bambu Pun Deg-degan
  • Relawan Jepang Tinjau Jembatan Rapuh di Serang, Bambu Pun Deg-degan

Posting Komentar