Banten Masuk 8 Besar Nasional Produksi Beras, Andra Soni Ungkap Data Terbaru
![]() |
| Banten masuk 8 besar produksi beras nasional dengan 1,8 juta ton, dorong pertanian modern PM-AAS. |
Intinya:
- Banten peringkat 8 nasional produksi beras
- Luas panen 345.421 hektare, produksi 1,8 juta ton
- Pertanian tumbuh 9,60 persen berdasarkan BPS
- Program PM-AAS dorong produktivitas hingga 10 ton/hektare
- Dukung kebutuhan MBG dengan 3,5 juta penerima manfaat
Pernyataan tersebut disampaikan Andra Soni saat menghadiri kegiatan Tanam Perdana Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, capaian tersebut diperkuat dengan data luas panen dan produksi padi di Banten sepanjang tahun 2025.
“Alhamdulillah, pada tahun 2025, luas panen padi di Provinsi Banten mencapai 345.421 hektare dengan total produksi mencapai 1,8 juta ton,” ujar Andra.
Pencapaian ini menempatkan Banten sebagai produsen padi terbesar kedelapan nasional dan menjaga konsistensi Indeks Ketahanan Pangan selama enam tahun berturut-turut.
Selain itu, sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan di Banten mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 9,60 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Andra menilai modernisasi pertanian melalui program Kementerian Pertanian akan mendorong peningkatan produktivitas secara signifikan.
“Sistem pertanian modern ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan. Berdasarkan penelitian, hasil panen yang awalnya 3,25 hingga 4,5 ton per hektare bisa meningkat menjadi 5,1 hingga 7,5 ton per hektare. Bahkan, pada kondisi optimal, produktivitasnya dapat menembus 10 ton per hektare,” jelasnya.
Ia juga menyebut mekanisasi pertanian mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Peningkatan produksi tersebut diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sekitar 3,5 juta penerima manfaat di Banten.
“Bisa dibayangkan, 85 persen kebutuhan program MBG berasal dari sektor pertanian dan peternakan. Mudah-mudahan potensi ini bisa kita manfaatkan. Apalagi saat ini perekonomian Banten tumbuh 5,37 persen dan Nilai Tukar Petani (NTP) juga mengalami kenaikan,” tambahnya.
Adopsi Teknologi Berbasis Presisi
Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementan, Husnain, menjelaskan bahwa sistem PM-AAS merupakan hasil pengembangan dari kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Arkansas, Amerika Serikat.
Metode ini menerapkan pola tanam lebih rapat sehingga meningkatkan populasi padi.
“Dengan populasi yang lebih banyak, hasil produksinya pun akan meningkat,” tutur Husnain.
Saat ini, program percontohan PM-AAS dilaksanakan di Kecamatan Kasemen, Kota Serang seluas 100 hektare sebagai tahap ketiga dari 15 lokasi di 14 provinsi.
Kepala Wilayah Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Banten, Andry Polos, menyebut PM-AAS mengusung enam prinsip utama, mulai dari tanam rapat hingga pendekatan spesifik lokasi.
“Target produksi kami adalah 10 ton per hektare,” ungkap Andry.
Ia juga menyampaikan respons positif dari petani terhadap program tersebut.
“Meski pada awal sosialisasi responsnya agak kurang, mereka pada akhirnya menerima dan mendukung penuh program ini,” imbuhnya.
Dukungan serupa disampaikan Ketua Kelompok Tani Masyarakat Guyub 1, Andi Kamal, yang merasakan efisiensi biaya melalui mekanisasi.
“Ibu-ibu yang biasanya menanam sudah pada tua. Sekarang dengan adanya alat tanam, prosesnya lebih hemat,” kata Kamal. “Kalau tanam manual oleh ibu-ibu, biayanya bisa mencapai Rp2 juta per hektare untuk 25 pekerja. Namun, dengan alat mesin, biayanya hanya sekitar Rp200.000 per hektare.”
Percontohan PM-AAS di Banten dilaksanakan di empat titik seluas 100 hektare dengan melibatkan empat kelompok tani dan total 90 anggota. Saat ini, produktivitas lahan berada di kisaran 6 hingga 6,5 ton per hektare menggunakan benih padi varietas Inpari 32.
Penulis: Habudin
Editor: Fuad Hasan
