Normalisasi Belum Tuntas, Banjir di Ciruas Makin Tak Terkendali

Ilustrasi Camat Ciruas, Yuli Saputra, menyoroti kondisi Sungai Ciwaka yang mengalami pendangkalan dan perlunya normalisasi menyeluruh untuk mencegah banjir meluas.
FOKUS SERANG - Banjir di Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, makin meluas pada awal tahun 2026. Pemerintah Kecamatan Ciruas menilai kondisi Sungai Ciwaka yang mengalami pendangkalan parah menjadi salah satu penyebab utama.
Intinya:
- Sungai Ciwaka mengalami sedimentasi parah
- Normalisasi baru sekitar 700 meter atau 30 persen
- Banjir meluas dari empat menjadi delapan desa
- Lebar sungai menyusut dari sekitar 15 meter
- Area sedimentasi bahkan dijadikan sawah warga
Camat Ciruas, Yuli Saputra, mengatakan pihak kecamatan sudah memetakan sejumlah wilayah rawan banjir setelah banjir besar sebelumnya.
Beberapa titik yang menjadi perhatian di antaranya kawasan BCP 2, Cigelam, dan sejumlah desa lain di wilayah Ciruas.
“Jadi ada wilayah yang rawan banjir, mulai dari BCP 2, Cigelam, dan beberapa desa lainnya. Kami lakukan pemetaan, salah satu penyebab utamanya ialah karena tidak lancarnya arus air untuk pembuangan sampai ke laut,” katanya, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurutnya, terdapat dua sungai yang menjadi penyebab banjir di Kabupaten Serang, yakni Kali Gendong dan Sungai Ciwaka.
Namun, kondisi Sungai Ciwaka disebut sudah sangat parah akibat sedimentasi yang terjadi bertahun-tahun.
“Ini harus kita sikapi karena memang kondisinya sudah sangat parah. Kita pemerintah Kecamatan sudah berkoordinasi dengan Pemkab Serang dan BBWSC3 untuk melakukan normalisasi total Sungai Ciwaka yang melintas di wilayah Ciruas,” ujarnya.
Sebelumnya, normalisasi sempat dilakukan Pemkab Serang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR).
Namun pengerjaan belum maksimal karena keterbatasan anggaran.
Dari total panjang Sungai Ciwaka di Kecamatan Ciruas yang mencapai sekitar tujuh hingga delapan kilometer, normalisasi baru dilakukan sekitar 700 meter.
“Jadi baru sekitar 30 persen yang tertangani dari total Sungai Ciwaka Kecamatan Ciruas dari total panjang sekitar tujuh sampai delapan kilometer,” ujarnya.
Pendangkalan juga membuat lebar sungai menyusut dari sebelumnya sekitar 15 meter.
Di sejumlah titik bahkan tumbuh pepohonan yang menandakan sedimentasi sudah berlangsung lama.
Tak hanya itu, area sungai yang mengalami sedimentasi juga dimanfaatkan warga menjadi lahan sawah.
“Selain itu, warga juga bahkan menanami padi di lahan sungai yang mengalami sedimentasi dijadikan sawah oleh warga dan ditanami padi hingga panen. Ini berarti kondisinya sudah sangat parah dan berlangsung bertahun-tahun,” ujarnya.
Dampaknya kini makin terasa. Jika sebelumnya banjir hanya merendam empat desa, pada awal tahun 2026 jumlahnya meluas hingga delapan desa.
“Biasanya empat desa yang langganan banjir, tahun ini meluas hingga ke delapan desa,” pungkasnya.
Penulis: Fuad Hasan
Editor: Ibrahim