Festival Tari Inklusi Banten Tegaskan Budaya untuk Semua

Festival tari inklusi di Banten libatkan SKH dan komunitas budaya untuk pelestarian seni tradisional.
FOKUS BANTEN - Festival Tari Kreasi Tradisional Banten Berbasis Inklusi digelar di Gedung Juang 45, Banten, dengan melibatkan komunitas seni hingga sekolah kebutuhan khusus.
Intinya:
- Festival menegaskan budaya harus terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa diskriminasi.
- Peserta melibatkan pegiat seni, pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan sekolah kebutuhan khusus.
- Tari Senong diperkenalkan sebagai karya budaya Banten yang mengangkat identitas “Nong Banten”.
Kementerian Kebudayaan bersama program Dana Indonesiana dan LPDP mendukung penyelenggaraan Festival Tari Kreasi Tradisional Banten Berbasis Inklusi yang digelar di Gedung Juang 45.
Festival menghadirkan berbagai unsur pegiat seni, pemerintah, akademisi, komunitas budaya, hingga sekolah kebutuhan khusus (SKH).
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Kepala Bidang Pariwisata Kota Serang, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, perwakilan Dinas Koperasi Kota Serang, Ketua Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan Untirta, Ketua ASETI Banten, Ketua Sanggar Wandan Banten Wiwin Purwinati, kepala sekolah SKH 01, SKH 02, SKH Madina serta Ketua Sanggar Jongjaya Sakti, Dimas.
Kenapa Festival Ini Mengusung Konsep Inklusi?
Festival Tari Kreasi Tradisional Banten Berbasis Inklusi digelar untuk memastikan seni dan budaya menjadi ruang bersama yang dapat diakses seluruh masyarakat tanpa diskriminasi. Kegiatan ini juga melibatkan sekolah kebutuhan khusus sebagai bagian dari penguatan inklusivitas sosial melalui seni budaya.
Dalam sambutannya, ketua panitia, Dwi Junianti Lestari, SSM.,MPd., menegaskan bahwa festival berbasis inklusi ini bukan sekadar pertunjukan tari, melainkan ruang bersama untuk memastikan seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam berkarya dan mengekspresikan diri melalui budaya.
“Tari kreasi tradisional Banten merupakan identitas budaya yang kaya akan nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal. Karena itu, pelestarian budaya tidak boleh eksklusif, tetapi harus dapat diakses semua kalangan,” disampaikan dalam sambutan pembukaan acara.
Festival ini juga menjadi ruang edukasi dan penguatan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Kehadiran peserta dari sekolah kebutuhan khusus menjadi simbol kuat bahwa seni mampu menjadi jembatan inklusivitas sosial sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat.
Lestari menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan LPDP atas dukungan terhadap penguatan ruang publik kebudayaan di daerah.
Festival Tari Kreasi Tradisional Banten Berbasis Inklusi diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem budaya yang terbuka, ramah, serta berkelanjutan.
Tidak hanya menjaga warisan budaya daerah, kegiatan ini juga mempertegas bahwa kebudayaan adalah hak seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Apa Makna Tari Senong yang Diperkenalkan di Festival?
Tari Senong terinspirasi dari sosok “Nong Banten” yang digambarkan sebagai perempuan daerah yang percaya diri, memiliki potensi, dan tetap menjunjung budaya asalnya. Tari ini juga diperkenalkan sebagai bagian dari promosi budaya Banten kepada masyarakat luas.
Pencipta Tari Senong, Dimas, menjelaskan bahwa karya tersebut terinspirasi dari sosok “Nong Banten”, ikon putri daerah yang dikenal memiliki karakter berpotensi, percaya diri, dan tetap menjunjung tinggi akar budaya daerah asalnya.
“Tari Senong terinspirasi dari identitas Nong Banten sebagai sosok perempuan daerah yang memiliki potensi, semangat untuk maju, serta tidak melupakan asal budayanya. Nilai itu kemudian saya hadirkan dalam karya seni tari,” ujar Dimas.
Ia menambahkan, hadirnya Tari Senong juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Banten kepada masyarakat luas sekaligus menarik minat wisatawan melalui pendekatan kebudayaan.
Menurut Dimas, Banten memiliki banyak potensi budaya yang perlu terus diangkat dan dipromosikan agar semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
“Tari ini merupakan bentuk dedikasi saya sebagai putra daerah untuk mengenalkan potensi budaya Banten yang sangat kaya dan layak mendapatkan perhatian lebih luas,” katanya.
Dalam dialog tersebut juga disampaikan bahwa Tari Senong diciptakan untuk seluruh generasi, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Konsep inklusif itu diharapkan mampu membuat tari tradisional lebih dekat dengan masyarakat dan dapat dipelajari oleh siapa saja.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan antusias dari para hadirin.
Suasana semakin meriah ketika peserta diajak menari bersama mengikuti gerakan Tari Senong yang dipandu para penari.
Kegiatan itu menjadi bukti bahwa seni tari tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya, penguatan identitas daerah, sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat.
Penulis: Sri Sulastri
Editor: Ibrahim