Suami Disuruh “Potong Jalur”? Lebak Ajak Pria Ikut KB, Biar Istri Nggak Sendirian Nanggung

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB
DP2KBP3A Lebak, Tuti Nurasiah
Intinya:
- Pemkab Lebak dorong pria ikut KB melalui vasektomi (MOP) untuk keseimbangan peran keluarga.
- Minat masih rendah, hanya 38 peserta di 2025, turun dari 60 orang di 2024.
- Program vasektomi gratis digencarkan untuk tekan angka kematian ibu.
- Masih banyak pria takut dan kurang edukasi soal KB pria.
LEBAK, FOKUS BANTEN – Urusan KB selama ini identik dengan perempuan. Suntik, pil, sampai alat kontrasepsi, semuanya seolah jadi “tugas wajib” istri.
Di Lebak, pola itu mulai digeser. Pemerintah daerah kini terang-terangan mengajak pria ikut turun tangan. Bukan sekadar dukungan moral, tapi langsung jadi peserta KB lewat metode operasi pria (MOP) atau vasektomi.
Pria Diajak Turun Tangan, Bukan Cuma Nonton
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DP2KBP3A Lebak, Tuti Nurasiah, menegaskan program ini bukan sekadar formalitas. Targetnya jelas: keluarga lebih sejahtera dan angka kematian ibu bisa ditekan.
“Program MOP atau vasektomi itu untuk mendukung kesejahteraan Keluarga Berencana,” ujarnya.
Selama ini, beban KB dianggap urusan perempuan. Padahal, risiko kesehatan justru banyak ditanggung istri. Di sinilah peran pria mulai didorong lebih aktif.
Minat Rendah, Pria Masih Takut
Data berbicara cukup keras. Pada 2024, peserta MOP di Lebak hanya 60 orang. Angka itu justru turun di 2025 menjadi 38 orang.
Penurunan ini menunjukkan satu hal: masih banyak pria yang ragu. Ketakutan terhadap prosedur vasektomi dan minimnya edukasi jadi faktor utama.
Pemerintah pun mulai gencar melakukan sosialisasi. Targetnya sederhana, tapi krusial—mengubah cara pandang bahwa KB bukan hanya tanggung jawab perempuan.
Gratis, Tanpa Pisau, Tapi Tetap Ditakuti
Untuk menarik minat, Pemkab Lebak menggandeng Klinik Anggara Rangkasbitung. Layanan vasektomi diberikan secara gratis.
Secara medis, prosedur ini tergolong operasi kecil. Bahkan dilakukan tanpa pisau untuk memotong saluran sperma.
Namun stigma dan ketakutan masih lebih besar dibanding fakta medis. Banyak pria masih menganggap vasektomi sebagai hal yang menakutkan.
Faktor Istri Jadi Pemicu Utama
Menariknya, sebagian besar pria yang akhirnya ikut program ini justru terdorong oleh kondisi istri. Bukan karena kesadaran pribadi semata.
Kasus seperti Nana (45), warga Rangkasbitung, jadi contoh nyata. Ia memutuskan ikut vasektomi setelah melihat kondisi istrinya yang sering sakit.
“Kami merasa kasihan melihat isteri sakit, sehingga ikhlas ikut program MOP,” katanya.
Dengan empat anak, keputusan itu bukan sekadar pilihan, tapi bentuk tanggung jawab.
Target Besar: Ubah Paradigma Keluarga
Pemerintah tidak hanya mengejar angka peserta. Mereka ingin membentuk pola pikir baru di masyarakat.
Sudah ada satu kelompok KB pria bernama Siliwangi. Ke depan, model ini akan diperluas ke desa dan kelurahan lain.
Tujuannya jelas: KB jadi urusan bersama, bukan beban sepihak.
Jika partisipasi pria meningkat, dampaknya bukan hanya pada pengendalian penduduk. Tapi juga pada keselamatan ibu dan kualitas hidup keluarga secara keseluruhan.