Desa Energi Berdikari Pertamina Dorong Ekonomi Desa

Intinya:
- Program Desa Energi Berdikari Pertamina membantu desa meningkatkan ekonomi lewat energi terbarukan.
- Di Aceh, PLTS untuk tambak mampu mendongkrak produktivitas hingga 40 persen dan menambah pendapatan warga.
- Inisiatif ini juga membawa Pertamina meraih penghargaan internasional SEAL Awards 2026.
FOKUS ACEH - Di saat harga minyak dunia bikin banyak sektor deg-degan dan perubahan iklim makin terasa nyata, secercah kabar baik justru datang dari desa. Bukan dari gedung tinggi atau forum elite, tapi dari kampung-kampung yang pelan-pelan mulai berdiri di atas kaki sendiri lewat energi bersih.
Ada satu pola yang mulai terlihat jelas. Ketika listrik tak lagi cuma soal lampu menyala, tapi juga soal tambak hidup, usaha jalan, dan dapur tetap ngebul, desa tidak sekadar bertahan. Desa mulai tumbuh.
Itu yang kini terlihat di sejumlah wilayah Indonesia melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina.
Tambak yang Dulu Bergantung, Kini Punya Tenaga Sendiri
Salah satu contoh paling nyata ada di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Aceh. Di desa ini, Pertamina menghadirkan energi terbarukan berupa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 4,4 Kilowatt-peak (kWp) dengan baterai 10 kilowatt per jam (kWh).
Energi itu tidak dipasang untuk gaya-gayaan teknologi. Fungsinya sangat konkret: menghidupkan aerator dan mesin pakan di tambak warga.
Hasilnya terasa langsung. Produktivitas tambak meningkat sampai 40 persen, sementara pendapatan warga bertambah hingga Rp6 – 8 juta per bulan.
Artinya sederhana. Energi bersih di desa ini bukan sekadar wacana lingkungan, tapi sudah berubah jadi alat produksi.
Sempat Dihantam Bencana, Tapi Tidak Tumbang
Harapan itu sempat kembali diuji. Bencana Sumatra dan Aceh pada tahun 2025 ikut menyapu udang dan ikan di tambak warga.
Bagi banyak warga, itu bukan cuma kerugian usaha. Itu juga pukulan hidup.
Namun ada satu hal penting yang tetap bertahan: perangkat PLTS masih bisa beroperasi. Saat banyak hal porak-poranda, sumber energi di tambak tetap menyala dan menjadi titik awal warga untuk bangkit lagi.
“Paskabanjir, kami sempat kehilangan segalanya. Berkat dukungan Program DEB Pertamina, kami bisa bangkit kembali, memulai usaha, dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri,” ungkap Muhrizal, Local Hero di Program Gampong Berdikari budi daya udang vaname di Desa Padang Sakti.
Bukan Cuma Hemat Energi, Tapi Juga Menghasilkan Uang
Dampak program ini ternyata tidak berhenti di satu desa. Secara keseluruhan, DEB memberi nilai ekonomi sampai Rp5,5 miliar per tahun.
Dari sisi lingkungan, program ini juga disebut mampu mengurangi emisi hingga 1,09 juta ton Co2eq per tahun.
Di titik ini, DEB bukan lagi sekadar program sosial perusahaan. Ia sudah masuk ke wilayah yang lebih besar: ekonomi desa, ketahanan pangan, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Pertamina Dapat Pengakuan Global
Besarnya manfaat program ini ikut membawa nama Pertamina ke panggung internasional. Bersama 23 perusahaan dunia seperti Aviva Plc, British Airways, CEMEX, General Motors, Lenovo, hingga Saudi Aramco, Pertamina meraih penghargaan Sustainability, Environmental Achievement & Leadership (SEAL) Awards 2026 untuk kategori Inisiatif Lingkungan.
Penghargaan itu diberikan atas berbagai inisiatif lingkungan dan keberlanjutan yang dinilai memberi dampak positif bagi masyarakat.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa solusi energi baru dan terbarukan bisa memberi dampak langsung bagi warga desa.
“Apresiasi internasional ini adalah kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat desa yang telah menjadi bagian dari penggerak perubahan, serta pemerintah daerah dan mitra lokal. Ini menjadi motivasi bagi Pertamina untuk terus menghadirkan inovasi yang berdampak nyata, terutama dalam memperkuat resiliensi desa menghadapi dinamika global,” ujar Baron.
Sudah Dibangun di 252 Desa
Program ini ternyata bukan skala kecil. Hingga kini, Pertamina telah membangun 252 Desa Energi Berdikari di seluruh Indonesia.
Sebanyak 64% DEB berada di luar Pulau Jawa. Angka ini menunjukkan fokus pemerataan pembangunan, terutama untuk wilayah yang selama ini kerap tertinggal dalam akses energi dan penguatan ekonomi lokal.
Dari total itu, sebanyak 156 DEB memproduksi 15,8 ribu ton bahan pangan beras dan 890,4 ton bahan pangan non beras.
Kontribusinya jelas: energi tidak cuma menjaga aktivitas desa tetap hidup, tapi juga menopang ketahanan pangan nasional.
Bukan Hanya Panel Surya
Pertamina menyebut pemanfaatan energi baru terbarukan dalam DEB tidak hanya bertumpu pada panel surya. Program ini juga mencakup mikrohidro, biogas, dan bentuk energi terbarukan lainnya.
Tujuannya bukan semata menghadirkan listrik alternatif. Yang dibangun adalah fondasi agar desa punya ketahanan energi sekaligus mesin penggerak ekonomi.
“Pemanfaatan energi baru terbarukan Pertamina DEB terdiri dari panel surya, mikrohidro, biogas dan energi terbarukan lainnya. Kami berharap dengan pemanfaatan energi transisi, masyarakat desa tak hanya memiliki ketahanan energi, tapi juga penggerak aktivitas ekonomi,” ungkap Baron.
Dari Program Energi ke Soal Masa Depan Desa
Ke depan, Pertamina menyatakan akan terus memperluas inisiatif berbasis energi bersih dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya, semakin banyak desa di Indonesia yang bukan hanya kuat menghadapi gejolak ekonomi dan perubahan iklim, tetapi juga tumbuh menjadi pusat kemandirian energi dan ekonomi baru.
Langkah ini juga disebut sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Pemerintah pada tahun mendatang.
Di level yang lebih luas, Pertamina menegaskan komitmennya dalam mendorong transisi energi, mendukung target Net Zero Emission 2060, serta menjalankan program yang berdampak langsung terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Seluruh upaya itu, menurut perusahaan, juga berjalan seiring dengan transformasi bisnis yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha, dan lingkungan melalui penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG).
Pada akhirnya, cerita soal energi di desa bukan lagi cerita teknis. Ini soal bagaimana listrik bisa mengubah rasa putus asa menjadi ruang untuk memulai lagi.
Dan kadang, perubahan besar memang tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang diam-diam, lewat panel surya yang terus bekerja saat yang lain sempat runtuh.
FAQ Seputar Desa Energi Berdikari Pertamina
Apa itu Desa Energi Berdikari Pertamina?
Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina adalah program pemberdayaan masyarakat berbasis energi baru terbarukan yang bertujuan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong aktivitas ekonomi warga desa.
Di mana contoh penerapan program DEB Pertamina dalam artikel ini?
Salah satu contohnya ada di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Aceh, melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mendukung usaha tambak warga.
Apa manfaat PLTS bagi warga Desa Padang Sakti?
PLTS di Desa Padang Sakti dimanfaatkan untuk mengoperasikan aerator dan mesin pakan tambak, sehingga mampu meningkatkan produktivitas tambak sampai 40 persen dan menambah pendapatan warga hingga Rp6 – 8 juta per bulan.
Bagaimana kondisi warga setelah bencana Sumatra dan Aceh tahun 2025?
Meski tambak warga terdampak bencana Sumatra dan Aceh pada tahun 2025, perangkat PLTS tetap dapat beroperasi sehingga membantu masyarakat kembali menata usaha tambak mereka.
Berapa jumlah Desa Energi Berdikari yang sudah dibangun Pertamina?
Pertamina telah membangun 252 Desa Energi Berdikari di seluruh Indonesia, dengan 64% di antaranya berada di luar Pulau Jawa.
Apa saja jenis energi terbarukan yang digunakan dalam program DEB?
Pemanfaatan energi baru terbarukan dalam program DEB meliputi panel surya, mikrohidro, biogas, dan energi terbarukan lainnya.
Apa penghargaan yang diraih Pertamina lewat program ini?
Pertamina meraih penghargaan internasional Sustainability, Environmental Achievement & Leadership (SEAL) Awards 2026 untuk kategori Inisiatif Lingkungan.
Bagaimana kontribusi program DEB terhadap ketahanan pangan?
Sebanyak 156 DEB disebut memproduksi 15,8 ribu ton bahan pangan beras dan 890,4 ton bahan pangan non beras untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Penulis: Fuad Hasan / Editor: Ibrahim