Lebak Tambah 34 Ribu Jiwa: Bayi Lahir, Orang Pindah, Statistik pun Ikut Ramai

Lebak Tambah 34 Ribu Jiwa: Bayi Lahir, Orang Pindah, Statistik pun Ikut Ramai

Intinya:

  • Jumlah penduduk Lebak 2025 mencapai 1.566.535 jiwa, naik 34.971 dari 2024.
  • Rangkasbitung jadi wilayah dengan penduduk terbanyak di Lebak.
  • Kelahiran, kematian, dan migrasi jadi faktor utama pertumbuhan.

LEBAK, FOKUS BANTEN – Angka penduduk di Kabupaten Lebak terus bergerak naik. Tidak dramatis, tapi cukup bikin peta kepadatan berubah pelan-pelan.

Data terbaru mencatat, jumlah warga Lebak kini menembus 1.566.535 jiwa. Ada tambahan hampir 35 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan dinamika hidup—dari bayi yang lahir, warga yang meninggal, hingga mereka yang datang dan pergi.

Dominasi Laki-laki Masih Tipis

Komposisi penduduk menunjukkan perbedaan tipis antara laki-laki dan perempuan.

Sebanyak 51,38 persen atau 804.849 jiwa adalah laki-laki. Sementara perempuan mencapai 48,62 persen atau 761.686 jiwa.

Data ini dihimpun dari konsolidasi bersih Kementerian Dalam Negeri tahun 2025, yang menjadi rujukan resmi pemerintah daerah.

Rangkasbitung Masih Jadi Magnet

Jika bicara wilayah paling padat, Rangkasbitung masih belum tergeser.

Kecamatan ini dihuni 151.264 jiwa, atau sekitar 9,66 persen dari total penduduk Lebak. Angka ini menjadikannya pusat konsentrasi terbesar.

Di bawahnya ada Malingping dengan 80.817 jiwa, serta Cimarga dengan 80.759 jiwa. Keduanya hampir seimbang dari sisi jumlah.

Wilayah Sepi, Bukan Berarti Tertinggal

Di sisi lain, ada kecamatan dengan populasi jauh lebih kecil.

Lebakgedong, Cigemblong, dan Bojongmanik tercatat memiliki jumlah penduduk di bawah 30 ribu jiwa.

Kondisi ini tidak selalu berarti tertinggal. Bisa jadi karena faktor geografis, akses, atau pola migrasi yang berbeda.

Tiga Faktor Penentu: Lahir, Mati, Pindah

Pertumbuhan penduduk tidak terjadi begitu saja. Ada tiga komponen utama yang bekerja di belakang layar.

Kelahiran menjadi faktor penambah alami. Sementara kematian mengurangi jumlah penduduk secara biologis.

Satu lagi yang sering luput diperhatikan: migrasi. Perpindahan warga, baik masuk maupun keluar daerah, ikut membentuk angka akhir.

Ketika angka kematian menurun, peluang hidup meningkat. Dampaknya, jumlah penduduk ikut terdongkrak.

💬 Disclaimer: Kami di Fokus.co.id berkomitmen pada asas keadilan dan keberimbangan dalam setiap pemberitaan. Jika Anda menemukan konten yang tidak akurat, merugikan, atau perlu diluruskan, Anda berhak mengajukan Hak Jawab sesuai UU Pers dan Pedoman Media Siber. Silakan isi formulir di halaman ini atau kirim email ke redaksi@fokus.co.id.