Jalan Nyaris Putus, Harapan Ikut Longsor: Warga Asahan Menunggu yang Tak Kunjung Datang

Intinya:
- Jalan lintas Kisaran–Pematang Siantar nyaris putus akibat longsor.
- Kerusakan sepanjang 15 km dikeluhkan warga selama 2 tahun.
- Kecelakaan meningkat, akses ekonomi warga terancam.
ASAHAN, FOKUS SUMATERA UTARA - Jalan lintas Kisaran–Pematang Siantar di Kecamatan Buntu Pane kini seperti menunggu waktu untuk benar-benar menyerah. Separuh badannya sudah hilang, digerus longsor yang tak pernah berhenti.
Kendaraan terpaksa bergantian melintas. Satu salah langkah, jurang sudah menunggu di sisi jalan.
Warga tidak hanya takut. Mereka mulai lelah menunggu.
Sudah Dua Tahun, Tapi Hanya Disurvei
AT, warga setempat, tidak lagi berharap banyak pada janji. Ia mencatat sendiri, sudah tiga kali petugas datang melakukan survei.
Namun hasilnya nihil. Tidak ada perbaikan nyata yang terlihat di lapangan.
“Sudah tiga kali disurvei, tapi sampai sekarang belum ada tindakan,” ujarnya, Senin (23/3/2026).
Menurutnya, berbagai aksi sudah dilakukan warga. Dari keluhan hingga dorongan ke pemerintah daerah. Tapi semuanya seperti jatuh ke ruang kosong.
Lubang Menganga, Kecelakaan Mengintai

Kerusakan jalan bukan hanya di satu titik. Sepanjang kurang lebih 15 kilometer, jalan dipenuhi lubang besar.
Di siang hari saja berbahaya. Apalagi malam hari, saat lubang berubah jadi jebakan tak terlihat.
Kecelakaan pun jadi cerita yang berulang. Kendaraan rusak, pengendara terluka, bahkan nyaris kehilangan nyawa.
Bagi warga, ini bukan lagi soal kenyamanan. Ini soal keselamatan.
Ekonomi Warga di Ujung Jurang

SG, warga lainnya, menyebut jalan ini sebagai urat nadi kehidupan. Semua aktivitas bergantung pada jalur tersebut.
Dari hasil panen, distribusi barang, hingga mobilitas sehari-hari. Semua lewat jalan yang kini nyaris putus itu.
“Kalau putus, kami mau lewat mana lagi?” katanya.
Biaya logistik dipastikan melonjak. Hasil panen bisa merugi. Waktu tempuh makin panjang.
Dan pada akhirnya, yang paling terpukul adalah warga kecil.
Harapan yang Ikut Terkikis
Setiap hari, longsor terus menggerus badan jalan. Sedikit demi sedikit, akses itu menghilang.
Bersamaan dengan itu, harapan warga juga ikut terkikis.
Mereka kini hanya menunggu satu hal: tindakan nyata. Bukan survei, bukan janji, tapi perbaikan yang benar-benar terlihat.
Sebelum jalan itu benar-benar putus. Dan sebelum mereka benar-benar terisolasi.
Penulis: Habudin
Editor: Fuad Hasan