Harga Minyak Naik Picu Ancaman Resesi Global

Antrean panjang kendaraan di SPBU kota pada malam hari dengan harga BBM melonjak tinggi dan latar billboard grafik minyak naik drastis, mencerminkan krisis ekonomi global
Antrean panjang kendaraan di SPBU kota pada
malam hari dengan harga BBM melonjak tinggi dan
latar billboard grafik minyak naik drastis,
mencerminkan krisis ekonomi global

Intinya:

  • Harga minyak berpotensi melonjak hingga US$150 per barel dan picu resesi global.
  • Dampaknya merambat ke transportasi, industri, hingga daya beli masyarakat.
  • Negara berkembang jadi pihak paling rentan terdampak krisis energi.

FOKUS EKONOMI GLOBAL - Alarm bahaya ekonomi global mulai berbunyi. Bukan dari bank sentral, tapi dari orang dalam industri keuangan dunia.

CEO BlackRock, Larry Fink, melempar peringatan keras: jika harga minyak terus meroket dan bertahan tinggi, dunia bisa terseret ke jurang resesi.

Angkanya tidak main-main. Harga minyak disebut berpotensi menyentuh US$150 per barel atau sekitar Rp2,5 juta.

Harga Minyak Tinggi, Resesi di Depan Mata

Fink menyebut skenario ini bukan sekadar kemungkinan kecil. Jika harga bertahan di level ekstrem, dampaknya akan terasa ke seluruh sistem ekonomi global.

“Kita akan mengalami resesi global,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip, Kamis 26 Maret 2026.

Lebih mengkhawatirkan, kondisi ini bisa berlangsung lama. Ketegangan geopolitik yang belum mereda membuat harga energi sulit turun dalam waktu dekat.

Dalam skenario terburuk, harga minyak bisa bertahan di atas US$100 hingga mendekati US$150 selama bertahun-tahun.

Sejarah Sudah Pernah Memberi Sinyal

Lonjakan harga minyak bukan cerita baru. Sejarah mencatat, setiap kenaikan ekstrem sering diikuti krisis ekonomi.

Krisis minyak tahun 1973 dan 1979 jadi contoh klasik. Begitu juga menjelang krisis finansial 2008 saat harga minyak menyentuh US$147 per barel.

Data historis menunjukkan, ketika harga melonjak lebih dari 100 persen dari rata-rata lima tahun, resesi biasanya datang dalam 12 hingga 18 bulan.

Dampak Berantai: Dari Transportasi hingga Dapur Rumah

Kenaikan harga minyak tidak berhenti di pom bensin. Efeknya menjalar ke hampir semua sektor.

Biaya transportasi naik sekitar 2–3 persen untuk setiap kenaikan US$10 harga minyak. Ini langsung terasa di ongkos logistik dan harga barang.

Industri manufaktur seperti kimia, plastik, dan baja juga terpukul. Biaya produksi membengkak, margin tergerus.

Pada akhirnya, masyarakat yang menanggung beban. Pengeluaran energi naik, daya beli turun.

Sektor Paling Rentan: Penerbangan dan Logistik

Industri penerbangan menjadi salah satu korban paling cepat terasa. Biaya bahan bakar bisa menyerap 25 hingga 35 persen dari total operasional.

Artinya, tiket berpotensi mahal. Mobilitas masyarakat ikut tertekan.

Sektor logistik dan industri berat juga tidak luput. Kenaikan energi membuat rantai pasok makin mahal dan kompleks.

Selat Hormuz: Titik Rawan yang Menentukan

Salah satu pemicu lonjakan harga adalah gangguan distribusi di jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Jalur ini mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Sedikit gangguan saja bisa mengguncang pasar global.

Ketika distribusi tersendat, pasokan mengetat dan biaya pengiriman melonjak. Efek domino pun tak terhindarkan.

Negara Berkembang di Garis Depan Risiko

Dampak paling berat diprediksi akan menghantam negara berkembang. Terutama yang bergantung pada impor energi.

Mata uang bisa melemah, neraca perdagangan tertekan, dan inflasi meningkat.

Analisis BlackRock menunjukkan, jika harga minyak bertahan di atas US$140 selama lebih dari enam bulan, peluang resesi global meningkat signifikan.

Singkatnya, ini bukan sekadar soal harga energi. Ini tentang stabilitas ekonomi dunia yang sedang diuji.

FAQ: Dampak Kenaikan Harga Minyak Global

Apa penyebab utama harga minyak dunia naik drastis?

Kenaikan harga minyak biasanya dipicu oleh ketegangan geopolitik, gangguan distribusi seperti di Selat Hormuz, serta ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan global.

Kenapa harga minyak bisa memicu resesi global?

Harga minyak yang tinggi meningkatkan biaya produksi dan transportasi. Akibatnya, harga barang naik, daya beli turun, dan aktivitas ekonomi melambat secara luas.

Sektor apa yang paling terdampak kenaikan harga minyak?

Sektor transportasi, penerbangan, logistik, dan industri manufaktur seperti kimia dan baja menjadi yang paling cepat merasakan dampaknya karena sangat bergantung pada energi.

Bagaimana dampaknya bagi masyarakat sehari-hari?

Masyarakat akan merasakan kenaikan harga BBM, tarif transportasi, hingga harga kebutuhan pokok. Pengeluaran meningkat, sementara daya beli melemah.

Apakah Indonesia termasuk negara yang rentan terdampak?

Ya, sebagai negara yang masih mengimpor minyak, Indonesia berisiko menghadapi tekanan pada nilai tukar, inflasi, dan anggaran subsidi energi.

💬 Disclaimer: Kami di Fokus.co.id berkomitmen pada asas keadilan dan keberimbangan dalam setiap pemberitaan. Jika Anda menemukan konten yang tidak akurat, merugikan, atau perlu diluruskan, Anda berhak mengajukan Hak Jawab sesuai UU Pers dan Pedoman Media Siber. Silakan isi formulir di halaman ini atau kirim email ke redaksi@fokus.co.id.